Ada sebuah pola yang berulang di pasar properti Jabodetabek: kawasan yang dibeli sebelum infrastruktur besar masuk selalu memberikan return yang lebih tinggi dari kawasan yang dibeli setelah infrastruktur itu selesai. Serpong di awal 2000-an. Bekasi timur sebelum LRT beroperasi. Dan sekarang, satu koridor yang mulai ramai dibicarakan investor — Parung Panjang.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Parung Panjang akan berkembang. Pertanyaannya adalah apakah Anda akan masuk sebelum atau sesudah dua proyek tol senilai lebih dari Rp40 triliun selesai dibangun.

Dua Infrastruktur Tol yang Mengubah Peta Koridor Barat

Parung Panjang saat ini terkoneksi dengan Jakarta hanya melalui KRL jalur Rangkasbitung (60–75 menit ke Tanah Abang) dan jalan provinsi yang padat di jam tertentu. Ini yang membuat harga tanah di sana masih berada di level yang menarik bagi investor.

Namun dua proyek tol yang tengah berjalan secara bersamaan akan mengubah persamaan ini secara fundamental. Pertama, Tol Serpong–Balaraja (Serbaraja) Fase 2 dari Legok ke Tigaraksa Selatan sepanjang 11,5 kilometer akan mulai dibangun semester II 2026, dengan target seluruh ruas hingga Balaraja tersambung pada 2030. Proyek ini diprakarsai oleh Sinar Mas Land melalui PT Trans Bumi Serbaraja dengan total investasi diperkirakan menembus Rp30 triliun.

Kedua — dan ini yang lebih langsung berdampak ke Parung Panjang — Tol Bogor–Serpong via Parung. Panjang totalnya 32,03 kilometer dengan nilai investasi Rp12,35 triliun. Perjanjian pengusahaan sudah ditandatangani Oktober 2025, konstruksi dijadwalkan mulai Oktober 2026, dan target selesai Agustus 2028. Ketika ruas ini beroperasi, waktu tempuh dari Parung Panjang ke Serpong akan terpangkas drastis — membuka akses langsung ke ekosistem BSD City tanpa macet.

Dua tol ini tidak bekerja sendiri-sendiri. Keduanya akan terhubung dengan JORR 3, menjadikan Parung Panjang bagian dari jaringan tol lingkar luar Jakarta yang selama ini belum terjamah koridor barat.

Perbandingan Harga: Parung Panjang vs Kompetitor Satu Koridor

Di sinilah angka menjadi menarik. Berdasarkan data pasar Mei 2026, harga rumah komersial di Parung Panjang masih berada di rentang Rp258 juta hingga Rp817 jutaan. Sebagai perbandingan, kawasan yang sudah lebih dulu berkembang di koridor yang sama — Serpong dan BSD — sudah bergerak di atas Rp1,5 miliar untuk tipe setara.

Di Parung Panjang sendiri, beberapa perumahan yang saat ini menjadi referensi pasar antara lain Anandaya Home Resort oleh Synthesis Development, Millennium City, Samanea Hill, Sentraland Paradise, dan Amesta/Green Paradise City. Masing-masing menawarkan positioning yang berbeda — dari subsidi hingga resort — namun semuanya masih berada di level harga yang jauh di bawah koridor Serpong dengan fasilitas yang semakin kompetitif.

Anandaya Home Resort secara khusus memposisikan diri di segmen menengah atas dengan konsep resort dan fasilitas olahraga, menjadi satu-satunya perumahan di Parung Panjang yang secara eksplisit menargetkan pasar milenial dan Gen Z yang ingin gaya hidup lebih dari sekadar hunian standar. Synthesis Development sendiri adalah pengembang dengan rekam jejak panjang sejak 1992 — portofolionya mencakup Kalibata City, Bassura City, dan Plaza Semanggi.

Risiko yang Harus Diperhitungkan

Investasi di kawasan yang masih berkembang membawa risiko yang tidak boleh diabaikan. Pertama, likuiditas rendah. Properti di Parung Panjang lebih sulit dijual kembali dengan cepat dibanding kawasan yang sudah matang seperti Bekasi atau Serpong. Jika butuh dana darurat, proses penjualan bisa memakan waktu lebih lama. Kedua, keterlambatan infrastruktur. Proyek tol di Indonesia memiliki sejarah keterlambatan. Meskipun Tol Bogor–Serpong via Parung telah menandatangani PPJT, realisasi konstruksi bergantung pada kecepatan pembebasan lahan yang sering kali tidak sesuai jadwal. Ketiga, fasilitas yang belum matang. Ekosistem ritel, kesehatan, dan pendidikan di Parung Panjang masih berkembang — investor yang ingin menyewakan properti perlu mempertimbangkan apakah penyewa potensial siap dengan keterbatasan ini.

Namun risiko-risiko ini adalah cermin dari peluangnya. Harga masih rendah justru karena fasilitas belum matang dan tol belum selesai. Begitu keduanya tersedia, harga akan menyesuaikan — dan investor yang sudah masuk lebih awal akan menikmati selisihnya.

Kapan Masuk dan Apa yang Perlu Dipersiapkan

Timing terbaik untuk masuk ke koridor Parung Panjang adalah sebelum konstruksi tol dimulai secara nyata — yaitu sebelum Oktober 2026. Setelah alat berat masuk dan progres konstruksi terlihat, ekspektasi pasar biasanya sudah mulai terbentuk dan harga mulai bergerak naik.

Yang perlu dipersiapkan secara praktis: pastikan legalitas properti (SHM lebih kuat dari HGB untuk investasi jangka panjang), konfirmasi status IMB atau PBG sudah terbit, dan verifikasi rekam jejak developer. Untuk perumahan dengan developer yang sudah memiliki portofolio nasional, risiko proyek tidak selesai relatif lebih rendah.

Bagi yang ingin memanfaatkan momentum 2026, program PPN DTP 100% berdasarkan PMK No. 90 Tahun 2025 masih berlaku untuk rumah baru dengan harga tertentu — potensi penghematan yang tidak kecil untuk masuk di tahun ini.

Artikel ini adalah konten edukatif Panduanproperti.id berdasarkan data publik dari Kontan, Kompas Properti, Lamudi, Rumah123, Kementerian PU, dan sumber resmi proyek tol terkait. Bukan saran investasi. Keputusan investasi properti harus disesuaikan dengan profil risiko dan kondisi finansial masing-masing pembaca.

Pertanyaan Umum tentang Investasi Properti di Parung Panjang

Apakah Parung Panjang bagus untuk investasi properti 2026?

Parung Panjang memiliki potensi investasi properti yang menarik di 2026 karena dua proyek tol besar akan mulai konstruksi: Tol Bogor–Serpong via Parung (nilai Rp12,35 triliun, mulai Oktober 2026, selesai Agustus 2028) dan Tol Serpong–Balaraja Fase 2 (mulai semester II 2026). Harga properti saat ini masih di kisaran Rp258 juta–Rp817 jutaan, jauh di bawah kawasan Serpong dan BSD yang sudah di atas Rp1,5 miliar. Investor yang masuk sebelum infrastruktur selesai berpotensi menikmati kenaikan nilai yang signifikan.

Kapan tol Parung Panjang akan selesai dibangun?

Tol Bogor–Serpong via Parung dijadwalkan mulai konstruksi Oktober 2026 dan ditargetkan selesai Agustus 2028. Perjanjian pengusahaan (PPJT) sudah ditandatangani pada Oktober 2025 oleh PT Bogor Serpong Infra Selaras. Nilai investasi proyek ini sebesar Rp12,35 triliun dan merupakan bagian dari jaringan JORR 3. Selain itu, Tol Serpong–Balaraja Fase 2 juga akan mulai dibangun semester II 2026 dengan target tersambung hingga Balaraja pada 2030.

Perumahan mana yang bagus untuk investasi di Parung Panjang?

Beberapa perumahan yang menjadi referensi pasar di Parung Panjang untuk investasi antara lain Anandaya Home Resort oleh Synthesis Development (developer berpengalaman sejak 1992, portofolio termasuk Kalibata City dan Bassura City), Millennium City, Samanea Hill, Sentraland Paradise, dan Amesta/Green Paradise City. Untuk kelas menengah atas dengan fasilitas resort, Anandaya Home Resort menawarkan positioning paling kompetitif di kawasan ini dengan lokasi 10 menit dari Stasiun KRL Parung Panjang.

Apa risiko investasi properti di Parung Panjang?

Tiga risiko utama yang perlu diperhitungkan: pertama, likuiditas rendah — properti di kawasan berkembang lebih sulit dijual cepat dibanding kawasan matang seperti Bekasi atau Serpong. Kedua, risiko keterlambatan infrastruktur — proyek tol di Indonesia memiliki sejarah keterlambatan dan bergantung pada kecepatan pembebasan lahan. Ketiga, fasilitas yang belum matang — ekosistem ritel, kesehatan, dan pendidikan masih berkembang. Investor perlu memastikan horizon investasi minimal 3–5 tahun.

Bagaimana cara memulai investasi properti di Parung Panjang dengan aman?

Langkah praktis: prioritaskan properti dengan sertifikat SHM, konfirmasi IMB atau PBG sudah terbit, pilih developer dengan rekam jejak nasional, manfaatkan program PPN DTP 100% berdasarkan PMK No. 90 Tahun 2025 yang masih berlaku di 2026, dan masuk sebelum Oktober 2026 sebelum ekspektasi pasar terbentuk saat konstruksi tol dimulai.